mizan kita berbeza dgn mizan yg lain

10/06/2008 01:12:00 AM Edit This 0 Comments »
Dalam surat Al Baqarah ayat 212, Allah memaparkan perbezaan mizan (tolak ukur) yang di pakai orang beriman dan mizan yang dipakai orang kafir dalam menilai, dalam beramal dan dalam berkepribadian.

Allah SWT berfirman:

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas." (Al-Baqarah : 212)

Kehidupan dunia berikut kekayaannya yang sebenarnya tak berharga itu dan yang amat kecil urgensinya itu memang sengaja dijadikan indah oleh Allah dimata orang-orang kafir. Demikian indahnya, sehingga mereka terpesona, enggan meninggalkannya dan enggan melihat lebih jauh kepada hal-hal yang berada dibelakangnya. Mereka tidak mengetahui nilai lain selain duniawiyah itu.

Orang yang terpagar oleh ruang lingkup kehidupan duniawi ini, secara konsepnya tidak mungkin dapat menjangkau kepentingan luhur yang disandangkan oleh seorang mukmin. Mereka tidak akan mampu menatap wawasan yang lebih jauh.

Seorang mukmin sering menganggap kecil kekayaan duniawiyah. Ini bukan karena mereka tidak merasa berkepentingan terhadapnya atau tidak memiliki skill untuk memperolehnya. Juga bukan karena mereka bersikap vatalis yang tak ingin mengembangkan kehidupan. Akan tetapi, selain kerana mereka melakukan tugas sebagai khalifah di muka bumi, juga karena mereka memandang kehidupan dunia ini dari atas mizan Alah.

Sebagai khalifah Allah, kaum mukminin diberi tugas untuk memancangkan manhajNya di muka bumi, untuk memipin umat manusia menuju nilai yang lebih tinggi dan sempurna, sekaligus sebagai pengibar panji-panji kalimatNya di atas tempatnya yang tinggi. Dengan demikian mereka mengarahkan pandangannya lebih jauh kepada hal-hal yang ada di balik kehidupan yang dijadikan tujuan hidup oleh orang-orang yang tidak memiliki iman, tujuan luhur, cita-cita tinggi dan pandangan yang syamil (menyeluruh).

Orang-orang kerdil seperti orang-orang kafir yang tenggelam dalam Lumpur kehidupan duniawi itu memandang orang-orang beriman secara skeptis.

Mereka memandang orang-orang beriman itu seakan menganggap anak kecil kehidupan dunia dan menjauhi harta kekayaan.

Orang-orang kafir itu melihat orant-orang beriman hidup merana, berada dalam kesulitan dan bahkan menolak kelezatan hidup dunia yang justru dianggap kecil oleh orang-orang beriman karena adanya tujuan yang lebih luhur.

Orang-orang kafir melihat semua itu menganggap bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang hina . Mereka tidak mengetahui rahsia-rahsia dan cita-cita orang mukmin yang mulia. Oleh karena itu, wajar saja bila mereka memandang orang-orang mukmin itu hina, baik keadaannya, konsepsnya, mahupun cara hidup yang ditempuhnya.

Allah SWT menegaskan sekali lagi dalam firmanNya :
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman

Mereka (orang-orang kafir) lupa bahwa dalam mizan yang mereka pakai itu bukan mizan yang hak. Dalam menilai orang-orang mukmin, mereka menggunakan mizan dunia, mizan jahiliyah. Padahal mizan yang hal (benar) itu berada di tangan Allah. Allah melebihkan mizan orang-orang yang beriman menurut mizanNya:
Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat..

Itulah mizan yang hak, yang ada di sisi Allah. Dengan demikian orang-orang mukmin mengetahui secara jelas erti nilai hakiki mereka dalam timbangan Allah. Orang-orang beriman jelas lebih mulia di hari kiamat kelak.

Allah SWT melimpahkan kepada orang-orang beriman apa yang terbaik untuk mereka. Allah akan mencukupi seluruh rezeki mereka. Allah akan mencukupi seluruh rezeki mereka dan menganugrahkan apa yang dipilihkanNya untuk mereka, baik didunia maupun di akhirat sesuai dengan apa yang di pandangNya baik bagi mereka.
Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas..



Kehidupan selamanya diwarnai oleh dua model manusia ini, yakni kelompok orang-orang beriman yang menerima nilai-nilai, mizan dan konsep Allah SWT (yang selanjutnya membebaskan mereka dari kejahilan dan kekayaan dunia serta tujan-tujuan remeh) dan kelompok manusia yang menjadikan kehidupan dunia indah dalam pandangannya, sehingga mereka tak segan-segan menghambakan diri demi kekayaan dan nilai-nilainya (karena kepentingan dunia selalu menjeratnya).

Dari tempat tinggi, kaum muslimin selalu akan menyaksikan orang-orang yang terpenjara itu, betapa banyaknya harta dan kekayaan yang mereka miliki. Sementara orang-orang kafir merasa bahwa diri mereka telah dianugrahi kenikmatan-kenikmatan. Bahkan menurut pandangan mereka, orang-orang mukmin adalah orang-orang yang tidak mampu memperoleh kelazatan dunia tersebut. Oleh kerana itu mereka terkadang tak segan-segan menindas kaum mukmin dan dalam kesempatan lain memandang hina, padahal sebenarnya mereka sendirilah yang justru paling berhak menduduki kehinaan ini.

Maraji`:"Hidup Damai dalam Islam" Tafsir kontemporer karya Sayyid Qutb
(Fi Zhilal Al-Qur�an Jilid I, vol 2)

sumber:halaqah-online.com

0 comments: