dakwah
10/06/2008 12:40:00 AM Edit This 0 Comments »
secara umum dakwah terbagi kepada dua. dakwah 'ammah (umum) dan dakwah fardhiyah
(interpersonal).
contoh dakwah umum - ceramah, tulisan, pementasan dan
sebagainya yang terarah kepada kelompok yang ramai.
contoh dakwah fardhiyah -
interpersonal, melibatkan interaksi kita dengan mad'u secara personal. seperti
mengajak kawan solat, dsb.
Dalam berdakwah fardhiyah, ada beberapa tips yang boleh kita ikuti agar dapat memperoleh hasil yang optimum. Dalam artikel ini, dipaparkan 19 tips khusus untuk dakwah fardhiyah.
1. Giat dan sungguh-sunggguhlah dalam beramal, serta melakukan penyemakan dan evaluasi secara rutin agar dapat meneruskan perjalanan dakwah dengan tenang dan baik.
2. Mereka yang menjalankan Dakwah Fardiyah sebaiknya diarahkan dan diberi bimbingan dalam hal metode, pengertian-pengertian, dan urutan tahapan-tahapan dakwah.
3. Membantu aktiviti dakwah mad’u , mungkin dapat diberikan ketika acara liqa’at/halaqah ‘pertemuan-pertemuan’ dengan penjelasan materi (bahan pegisian), keterangan, dan penegasan mengenai nilai-nilai tertentu.
4. Tujuh tahapan di atas harus terwujud dan terbentuk dalam jiwa mad’u secara bertahap. Menyalahi urutan tahapan berdakwah dapat menyebabkan penolakan mad’u terhadap penyampaian dakwah. Perlu diperhatikan bahwa setiap tahapan yang dilalui bergantung pada tahapan sebelumnya dan sejauh mana penerimaan terhadapnya. Contohnya, bila seorang mad’u belum mempunyai kesedaran tentang kewajipan memikul tanggung jawab sosial dan memahami betapa sebuah jamaah itu diperlukan sebagai wahana menjalankan tanggung jawab tersebut, maka ia tidak mungkin bersedia menerima keberadaan sebuah jamaah, apalagi menyertainya.
5. Jangan sampai hanya karena ingin mad’u sampai pada tahapan yang lebih tinggi, menjadikan bertindak gelabah dan tergesa-gesa "mengupgradenya", padahal ia belum mempunyai keyakinan dan penerimaan yang sempurna terhadap setiap tahapan yang dilalui. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventiion terhadap kemungkinan apabila mad’u berbalik arah karena keragu-raguan dalam hatinya.
6. Sebaiknya dialog dan perbincangan berkenaan tujuh tahapan tersebut dilakukan dengan intensif, begitu juga pembicaraan mengenai berbagai dalil dan berbagai faktor yang dapat membuat mad’u puas. Hal ini sangat memudahkan seseorang yang akan menjalankan Dakwah Fardiyah.
7. Jalan dakwah harus benar-benar “bersih”, bersih seluruh syarat dan sangkaan negatif, bersih seluruh amal islaminya dari syubhat, bersih sarana dan prasarananya dari najis, dan tentunya juga bersih para pemikulnya dari maksiat. Sehingga tidak ada lagi kesan keragu-raguan dalam jiwa mad’u.
8. Seluruh kebaikan dan keberuntungan yang diraih oleh orang yang menerima dakwah harus ditonjolkan, begitu juga bahaya besar yang mengancam orang yang menolak seruannya. Method targhib dan tarhib ‘membangkitkan rasa harap pada pahala dan rasa takut terhadap siksaan’ mungkin akan sangat berkesan bagi mad’u.
9. Sesama aktivis dakwah seharusnya saling memikul, nasihat-menasihati, dan bersama-sama memikirkan masalah dan penyelesaian terhadap problematika di jalan dakwah. Misalanya, dengan saling membagi pengalaman di medan dakwah.
10. Selama dalam tahapan-tahapan tersebut, perlu dibekali dengan buku-buku, risalah-risalah, majalah-majalah, atau apa saja yang dapat diberikan kepada mad’u. disamping itu, perlu juga memberi beberapa pertanyaan kepada mad’u sehingga perkara yang kurang jelas dapat diketahui dan diberi penjelasannya.
11. Seorang mad’u yang sudah siap dan telah mampu menjalankan dakwah fardiyah, sepatutnya dianjurkan untuk segera melakukannya sambil tetap diberi bimbingan dan diikuti perkembangannya.
12. Barakah, taufik, dan hasil dalam dakwah dapat diperoleh sesuai dengan kadar keikhlasan, kesungguhan, sikap berlapang dada, dan kesabaran seorang da’i.
13. Dakwah Fardiyah dapat dijalankan dalam segala situasi, berbeza dengan Dakwah Ammah ‘dakwah dengan pendekatan umum’ seperti: ceramah, pengajian, diskusi, dll. Yang kadang-kadang dihambat dan dirintangi.
14. Keistimewaan Dakwah Fardiyah adalah dapat menciptakan hubungan dan ikatan langsung dengan mad’u , sementara Dakwah Ammah tidak demikian.
15. Dakwah Fardiyah dapat mengkayakan pelakunya dengan berbagai pengalaman dan sebagai latihan berdakwah di jalan Allah yang merupakan salah satu kewajipan utama.
16. Dakwah Fardiyah mendorong pelakunya agar produktif dan giat membekali diri engan bekal-bekal dakwah agar dapat menunaikan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
17. Dakwah Fardiyah mendorong pelakunya agar dapat menjadi qudwah ‘teladan’ bagi orang lain.
18. Dakwah Fardiyah member peluang langsung kepada mad’u untuk meminta penjelasan tentang berbagai masalah yang dihadapi dan sekaligus dapat menghilangkan ganjaran dalam hatinya, sehingga pembentukan pribadinya berlangsung dalam keadaan bersih.
19. Dengan menggunkan perhitungan matematik yang sederhana, mungkin kita dapat mendapati hasil dari Dakwah Fardiyah menjadi berlipat ganda hanya dalam masa yang singkat.
dipetik dan diedit dari huzaifah.org
(interpersonal).
contoh dakwah umum - ceramah, tulisan, pementasan dan
sebagainya yang terarah kepada kelompok yang ramai.
contoh dakwah fardhiyah -
interpersonal, melibatkan interaksi kita dengan mad'u secara personal. seperti
mengajak kawan solat, dsb.
Dalam berdakwah fardhiyah, ada beberapa tips yang boleh kita ikuti agar dapat memperoleh hasil yang optimum. Dalam artikel ini, dipaparkan 19 tips khusus untuk dakwah fardhiyah.
1. Giat dan sungguh-sunggguhlah dalam beramal, serta melakukan penyemakan dan evaluasi secara rutin agar dapat meneruskan perjalanan dakwah dengan tenang dan baik.
2. Mereka yang menjalankan Dakwah Fardiyah sebaiknya diarahkan dan diberi bimbingan dalam hal metode, pengertian-pengertian, dan urutan tahapan-tahapan dakwah.
3. Membantu aktiviti dakwah mad’u , mungkin dapat diberikan ketika acara liqa’at/halaqah ‘pertemuan-pertemuan’ dengan penjelasan materi (bahan pegisian), keterangan, dan penegasan mengenai nilai-nilai tertentu.
4. Tujuh tahapan di atas harus terwujud dan terbentuk dalam jiwa mad’u secara bertahap. Menyalahi urutan tahapan berdakwah dapat menyebabkan penolakan mad’u terhadap penyampaian dakwah. Perlu diperhatikan bahwa setiap tahapan yang dilalui bergantung pada tahapan sebelumnya dan sejauh mana penerimaan terhadapnya. Contohnya, bila seorang mad’u belum mempunyai kesedaran tentang kewajipan memikul tanggung jawab sosial dan memahami betapa sebuah jamaah itu diperlukan sebagai wahana menjalankan tanggung jawab tersebut, maka ia tidak mungkin bersedia menerima keberadaan sebuah jamaah, apalagi menyertainya.
5. Jangan sampai hanya karena ingin mad’u sampai pada tahapan yang lebih tinggi, menjadikan bertindak gelabah dan tergesa-gesa "mengupgradenya", padahal ia belum mempunyai keyakinan dan penerimaan yang sempurna terhadap setiap tahapan yang dilalui. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventiion terhadap kemungkinan apabila mad’u berbalik arah karena keragu-raguan dalam hatinya.
6. Sebaiknya dialog dan perbincangan berkenaan tujuh tahapan tersebut dilakukan dengan intensif, begitu juga pembicaraan mengenai berbagai dalil dan berbagai faktor yang dapat membuat mad’u puas. Hal ini sangat memudahkan seseorang yang akan menjalankan Dakwah Fardiyah.
7. Jalan dakwah harus benar-benar “bersih”, bersih seluruh syarat dan sangkaan negatif, bersih seluruh amal islaminya dari syubhat, bersih sarana dan prasarananya dari najis, dan tentunya juga bersih para pemikulnya dari maksiat. Sehingga tidak ada lagi kesan keragu-raguan dalam jiwa mad’u.
8. Seluruh kebaikan dan keberuntungan yang diraih oleh orang yang menerima dakwah harus ditonjolkan, begitu juga bahaya besar yang mengancam orang yang menolak seruannya. Method targhib dan tarhib ‘membangkitkan rasa harap pada pahala dan rasa takut terhadap siksaan’ mungkin akan sangat berkesan bagi mad’u.
9. Sesama aktivis dakwah seharusnya saling memikul, nasihat-menasihati, dan bersama-sama memikirkan masalah dan penyelesaian terhadap problematika di jalan dakwah. Misalanya, dengan saling membagi pengalaman di medan dakwah.
10. Selama dalam tahapan-tahapan tersebut, perlu dibekali dengan buku-buku, risalah-risalah, majalah-majalah, atau apa saja yang dapat diberikan kepada mad’u. disamping itu, perlu juga memberi beberapa pertanyaan kepada mad’u sehingga perkara yang kurang jelas dapat diketahui dan diberi penjelasannya.
11. Seorang mad’u yang sudah siap dan telah mampu menjalankan dakwah fardiyah, sepatutnya dianjurkan untuk segera melakukannya sambil tetap diberi bimbingan dan diikuti perkembangannya.
12. Barakah, taufik, dan hasil dalam dakwah dapat diperoleh sesuai dengan kadar keikhlasan, kesungguhan, sikap berlapang dada, dan kesabaran seorang da’i.
13. Dakwah Fardiyah dapat dijalankan dalam segala situasi, berbeza dengan Dakwah Ammah ‘dakwah dengan pendekatan umum’ seperti: ceramah, pengajian, diskusi, dll. Yang kadang-kadang dihambat dan dirintangi.
14. Keistimewaan Dakwah Fardiyah adalah dapat menciptakan hubungan dan ikatan langsung dengan mad’u , sementara Dakwah Ammah tidak demikian.
15. Dakwah Fardiyah dapat mengkayakan pelakunya dengan berbagai pengalaman dan sebagai latihan berdakwah di jalan Allah yang merupakan salah satu kewajipan utama.
16. Dakwah Fardiyah mendorong pelakunya agar produktif dan giat membekali diri engan bekal-bekal dakwah agar dapat menunaikan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
17. Dakwah Fardiyah mendorong pelakunya agar dapat menjadi qudwah ‘teladan’ bagi orang lain.
18. Dakwah Fardiyah member peluang langsung kepada mad’u untuk meminta penjelasan tentang berbagai masalah yang dihadapi dan sekaligus dapat menghilangkan ganjaran dalam hatinya, sehingga pembentukan pribadinya berlangsung dalam keadaan bersih.
19. Dengan menggunkan perhitungan matematik yang sederhana, mungkin kita dapat mendapati hasil dari Dakwah Fardiyah menjadi berlipat ganda hanya dalam masa yang singkat.
dipetik dan diedit dari huzaifah.org
0 comments:
Post a Comment